Ada beberapa hal yang kusadari ketika memasuki dekade ketiga hidupku, terutama jika dibandingkan dengan dekade pertama dan kedua. Salah satunya adalah perubahan dalam caraku memandang kompetisi, pencapaian, dan pengakuan.
Dulu, aku mengikuti banyak sekali lomba, kompetisi, atau apa pun istilahnya. Bidang seni, kepenulisan, Bahasa Jepang, apapun yang dikuasai. Intinya, segala sesuatu yang mempertemukan kemampuanku dengan kemampuan orang lain, hingga salah satu dari kami keluar sebagai juara. Bahkan di sekolah, tanpa harus mengikuti perlombaan apa pun, aku selalu terdorong untuk mengejar prestasi akademik, entah dengan meraih peringkat setinggi mungkin atau sekadar mendapatkan nilai ujian yang lebih baik daripada sebelumnya.
Oke, berani kuakui, validasi itu candu.
Sekali orang-orang di sekitar mengakui betapa kompetennya diri kita, seketika superioritas menjelma menjadi kabut yang menyelimuti pandangan. Kita mulai memandang diri sendiri melalui lensa keunggulan yang telah diakui orang lain. Tanpa sadar, kita pun bisa terbuai dalam ilusi bahwa kita memang harus selalu unggul.
Ilusi itu kemudian menjadi bahan bakar bagi spiral kompetisi berikutnya. Sekali diakui hebat, kita seolah dituntut untuk kembali membuktikan kehebatan yang sama, atau bahkan melampauinya. Seakan-akan ada beribu pasang mata yang siap menghakimi apabila keunggulan itu menurun, atau lebih buruk lagi, sirna sama sekali.
Peringkat yang terus meningkat. Piala dan piagam yang diabadikan. Tepuk tangan dan pujian yang tak terhitung jumlahnya. Pengakuan datang silih berganti, mengiringi berbagai episode kehidupanku. Dari masa ketika aku mengenakan seragam sekolah dengan warna yang berbeda-beda, berlanjut ke masa ketika pakaian bebas menandai babak baru dengan tanggung jawab yang lebih besar, hingga akhirnya aku menanggalkan status pelajar dan menjadi bagian dari masyarakat.
Di setiap babak itu, selalu ada standar yang bisa dikejar, pencapaian yang bisa diperlihatkan, dan pengakuan yang bisa diraih.
Namun, ketika cakrawala kehidupan semakin luas, aku mulai menyadari sesuatu: jika terus membawa obsesi berkompetisi seperti dahulu, hampir segala hal dapat berubah menjadi sumber stres. Spiral kompetisi yang dulu ada di dekade kedua, malah menjadi lingkaran setan bagiku. Apalagi ketika hasil tidak sesuai harapan, validasi yang menjadi sumber candu itu jelas tak didapat hingga membuat siapapun seperti orang sakau.
Bayangkan satu diri kita berhadapan dengan ribuan, bahkan jutaan orang lain di berbagai tempat. Selalu ada seseorang yang lebih cerdas, lebih kaya, lebih kuat, lebih berprestasi, atau lebih dahulu mencapai sesuatu yang kita inginkan. Jika hidup terus dijalani dengan ambisi untuk menjadi nomor satu, rasanya perlombaan itu tak akan pernah berakhir.
Belum lagi validasi, yang sifatnya memang tidak pernah abadi. Pujian hari ini tidak menjamin kekaguman esok hari. Keunggulan yang kita miliki sekarang bisa menjadi kemampuan biasa ketika orang lain mulai menguasainya. Bahkan gelar yang dahulu terasa istimewa dapat kehilangan kilaunya ketika kita memasuki lingkungan baru dengan standar yang berbeda.
Pada akhirnya, aku mulai merasa bahwa titel gemilang dan karier mentereng tidak lagi memiliki daya tarik sebesar dahulu. Bagiku, sumber penghidupan yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, ruang untuk menyiapkan masa depan melalui investasi, serta kehidupan yang bisa dijalani dengan tenang sudah lebih dari cukup dan menjadi pencapaian yang berarti.
Aku tidak mengatakan bahwa ambisi itu buruk atau bahwa mengejar karier setinggi mungkin merupakan kesia-siaan. Hanya saja, aku mulai mempertanyakan harga yang harus dibayar untuk setiap pencapaian, terutama jika harga itu adalah ketenangan batin sendiri.
Perubahan cara pandang ini semakin terasa ketika aku mempelajari Stoisisme. Aku belajar membedakan hal-hal yang berada dalam kendaliku dan hal-hal yang tidak. Hasil yang tidak sesuai ekspektasi masih bisa kuperbaiki sejauh ada ruang untuk bertindak. Namun, respons orang lain, penilaian mereka, dan bagaimana mereka memilih memandang diriku bukanlah sesuatu yang bisa kukendalikan sepenuhnya.
Aku pun belajar bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi, tidak semua kompetisi perlu diikuti, tidak semua penilaian perlu diluruskan, dan tidak semua pencapaian harus diperlihatkan agar terasa nyata.
Perlahan, beban yang dahulu kubawa terasa lebih ringan. Aku tidak lagi merasa perlu mengejar pengakuan dari lingkungan sekitar hanya untuk memastikan bahwa diriku masih layak dianggap kompeten. Aku mulai memahami bahwa ketenangan batin terlalu berharga jika harus terus-menerus ditukar dengan kebutuhan fana untuk membuktikan sesuatu.
Memasuki usia tiga puluh membuatku menyadari bahwa piala dan piagam tidak lagi menarik untuk dikagumi, apalagi dikejar. Sepintas, api kompetitif dalam diriku mungkin terlihat padam. Seolah-olah aku kehilangan minat untuk berprestasi, tidak lagi bernafsu menaklukkan tantangan, dan memilih berjalan tanpa tujuan yang berarti.
Namun, setelah kupikirkan kembali, mungkin api itu tidak benar-benar padam. Ia hanya berpindah tempat.
Dahulu, api itu menyala untuk mengejar podium, mengumpulkan gelar, dan memperoleh pengakuan. Kini, kubiarkan ia menyala untuk sesuatu yang berbeda: menjaga stabilitas hidup, merawat ketenangan jiwa, dan memastikan bahwa hari esok masih bisa kujalani dengan baik. Tak lagi diperlukan tatapan bangga atau tepuk tangan siapa pun untuk membuatnya tetap menyala.
Meski demikian, ada kalanya aku bertanya-tanya: apakah ini memang bagian alami dari bertambahnya usia, atau justru ada sesuatu dalam diriku yang berubah terlalu jauh?
Binar medali dari lomba lari lima kilometer yang senantiasa menggoda di halaman media sosial tidak lagi cukup menarik untuk membuatku ingin mendaftar. Kompetisi strength training pun tidak serta-merta membangkitkan ambisi dan keinginanku untuk mengalahkan peserta lain. Aku tidak lagi merasa harus membuktikan bahwa lariku lebih cepat, angkatanku lebih berat, atau kemampuanku lebih unggul daripada orang-orang yang berada di arena yang sama.
Sepuluh tahun lalu, mungkin sulit bagiku membayangkan bahwa aku akan bersikap seperti ini.
Aku masih bisa menikmati olahraga, belajar dan meningkatkan keterampilan, atau menghadapi tantangan yang menarik. Namun, dorongan untuk mengubah semuanya menjadi kompetisi demi sebuah gelar terasa semakin jauh. Aku mulai bertanya: jika tidak ada medali yang menunggu di garis finis, apakah sebuah pencapaian masih layak diperjuangkan? Jika tidak ada orang yang akan mengetahui hasilnya, apakah usaha itu tetap berarti?
Dulu, mungkin aku akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan keraguan. Kini, jawabannya terasa lebih sederhana: tentu saja.
Dekade baru ini menyadarkanku bahwa aku tetap bisa mencapai sesuatu untuk dinikmati sendiri, tanpa harus mengumumkannya kepada dunia, apalagi menjadikannya umpan untuk memancing validasi berikutnya.
Betapa kuatnya kamu mengangkat beban seberat itu. Betapa hebatnya larimu menempuh sekian kilometer. Betapa cerdasnya kamu menguasai bahasa sesulit itu.
Pujian-pujian semacam itu tidak lagi memiliki daya tarik yang sama bagiku. Bukan karena aku menganggapnya tidak berharga, melainkan karena aku tidak lagi merasa perlu menjadikannya alasan untuk melakukan sesuatu.
Bahkan, aku mulai tidak peduli ketika menyadari bahwa piala, piagam, dan medali lamaku sudah berceceran entah di mana. Sebagian mungkin sudah berdebu, sebagian lain mungkin tak lagi berbentuk seperti ketika pertama kali kuterima. Jika suatu hari ada yang bertanya seperti apa bentuk asli salah satu trofi itu, mungkin aku hanya akan mengangkat bahu dengan ekspresi komikal, mencoba mengingat-ingat tanpa terlalu ambil pusing. Toh itu hanya benda mati, sedikit berdebu atau bercecer tak lantas membuat keterampilanku turut bercecer.
Lucu juga jika dipikir. Sesuatu yang dahulu terasa begitu penting hingga perlu diabadikan, kini bahkan tidak lagi kuingat bentuknya dengan jelas. Namun, hilangnya perhatian terhadap benda-benda itu tidak menghapus pengalaman yang pernah kubawa pulang. Aku tetap pernah berjuang, belajar, dan merasakan kegembiraan ketika berhasil mencapai sesuatu. Pengalaman itu tetap menjadi bagian dari diriku, sekalipun simbolnya tak lagi kusimpan dengan baik. Cukuplah menjadi memori bahwa aku pernah berjuang dan menggapai hasil perjuangan itu.
Selain mengubah caraku memandang pencapaian, dekade ini juga mengajariku untuk lebih menikmati momen dan proses.
Dahulu, aku cenderung terobsesi pada hasil akhir atau output yang tanpa cela. Segala sesuatu terasa harus berujung pada pencapaian yang dapat diukur, diperlihatkan, atau setidaknya dijadikan bukti bahwa usahaku tidak sia-sia. Kini, aku tidak lagi ingin menghabiskan begitu banyak energi untuk memastikan bahwa setiap hasil sesuai dengan bayangan ideal di kepalaku.
Ambil contoh latihan otot dan kekuatan. Aku tidak ingin lagi menjadikan bentuk tubuh sebagai sumber stres hanya karena hasilnya belum sesuai harapan. Aku bisa memperbaiki tempo, menyempurnakan gerakan, menjaga konsistensi, dan menikmati setiap sesi latihan tanpa harus terus-menerus mengawasi apakah tubuhku sudah terlihat seperti yang kuinginkan.
Biarlah perubahan fisik itu terbentuk seiring waktu, selama aku masih merasakan manfaat lain yang lebih nyata: tubuh yang lebih kuat, kebiasaan yang lebih sehat, dan kepuasan karena telah meluangkan waktu untuk merawat diri.
Aku tidak harus menjadikan setiap sesi latihan sebagai ujian atas kedisiplinan. Tidak setiap kilogram beban yang bertambah harus menjadi pembuktian. Tidak setiap perubahan yang belum terlihat berarti kegagalan.
Begitupun untuk hal lain. Ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa melakukan sesuatu dengan baik, meskipun tak seorang pun menyaksikannya. Ada kebahagiaan dalam menjalani proses tanpa harus terburu-buru mengubahnya menjadi prestasi. Dan ada kebebasan ketika kita akhirnya bisa berhenti mengukur nilai sebuah pengalaman hanya berdasarkan hasil akhirnya.
Barangkali, inilah perubahan terbesar yang kurasakan ketika memasuki dekade ketiga hidupku. Aku tidak lagi ingin menjadikan seluruh kehidupan sebagai arena perlombaan, tempat setiap kemampuan harus diuji dan setiap keberhasilan harus dibandingkan. Aku masih ingin bertumbuh, tetapi tidak dengan mengorbankan ketenangan. Aku masih ingin mencapai sesuatu, tetapi tidak harus selalu menjadi yang terbaik. Aku masih ingin menantang diri sendiri, tetapi kini aku punya kebebasan untuk menentukan tantangan mana yang memang layak kuikuti.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti jiwa kompetitifku akan kembali menyala dengan cara yang sama seperti dahulu. Mungkin akan ada tantangan yang kembali membangkitkan semangatku. Mungkin pula ada hal-hal yang selamanya tidak lagi menarik untuk kukejar. Dan aku mulai merasa bahwa kedua kemungkinan itu tidak perlu menjadi persoalan.
Sebab, pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan yang wajib kita menangkan sebelum waktu habis. Tidak ada satu podium universal yang menunggu semua orang di garis finis. Kita hanya menjalani waktu yang tersedia, menentukan apa yang layak diperjuangkan, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal harus menjadi bukti keunggulan kita.
Jika dahulu aku berlari agar bisa tiba lebih dahulu daripada orang lain, kini aku ingin memastikan bahwa aku masih menikmati perjalanan itu sendiri.
Aku tidak berhenti berkembang. Aku hanya berhenti berlomba dengan semua orang.
Aku pun tak membutuhkan riuh tepuk tangan itu lagi.
Dan untuk pertama kalinya, rasanya itu sudah cukup.
.jpeg)









